Kader Desa Didorong Tebarkan Benih Inklusivitas

LINTASJEPARA.ISKNEWS.COM, Lintas Jepara - Akhir-akhir ini, banyak pemuda dengan mudah memberikan ujaran kebencian, mengeluarkan kata-kata kotor hingga bullying melalui medsos. Pemuda juga mulai terjebak dalam berbagai kegiatan yang kontraproduktif dan kurang memiliki kualitas dan daya saing untuk memajukan bangsa.

Selain itu, banyak pemuda yang tidak peduli terhadap perkembangan desa atau lingkungannya. Selain itu, generasi muda mulai kurang memahami toleransi dan keberagaman, dan sikap ekslusif membawa generasi muda jatuh dalam problematika pemuda masa kini.

Adanya fenomena ini, Lakpesdam NU Jepara, mendorong kepada generasi muda di Jepara untuk menebarkan virus inklusivitas di desanya masing-masing. Hal ini seperti disampaikan oleh Ketua Lakpesdam Nu Jepara, Ahmad Sahil, saat kegiatan Sekolah Kader Desa, 27-28 Janauari 2018 di aula Hotel Kalingga Jepara.

Menurut Sahil, desa sebagai sebuah wilayah terkecil yang berdaulat harus punya kontribusi untuk turut serta menyelesaikan masalah bangsa ini, yaitu semakin kencangnya politik identitas dan polarisasi yang bisa mengancam harmonisasi kehidupan kebangsaan.

“Pemuda desa harus berperan akan hal tersebut, oleh karenanya sekolah kader desa ini dilaksanakan,” katanya.


Kegiatan yang diikuti oleh 40 kader desa dari IPNU, IPPNU, PMII, FKJ, GP Ansor dan Fatayat ini, menghadirkan tiga narasumber masing-masing Nur Kkholis Khauqola, Dosen Fakultas Hukum dan Syariah UNISNU Jepara, Muhammadun Sanomae dari unsur wartawan dan Sabiq Wafiyudin yang merupakan Pendamping Desa.

Sahil menambahkan, peran pemuda dalam membangun bangsa akan menjadi prioritas utama. Sebab, kedepannya bangsa ini akan disibukkan dengan rekayasa sosial yang didalamnya membutuhkan keampuhan dan kehebatan para pemuda Indonesia untuk menghadapinya.

Kehebatan teknologi, informasi dan perkembangan ekonomi akan menjadi bagian yang teramat penting bagi pembenahan pemuda kedepannya, agar siap menghadapi semua permasalahan bangsa.

Nur Kkholis Khauqola, dosen Unisnu Jepara mengungkapkan, munculnya eksklusi di masyarakat berawal dari adanya prasangka. Prasangka merupakan sikap antipati yang berlandaskan pada cara menggeneralisasi secara serampangan, dengan membandingkan dengan kelompoknya sendiri.

Setelah muncul prasangka maka akan adanya stereotip (pelabelan -red) dan akhirnya akan terjadi diskriminasi. Untuk menjadi pemuda yang inklusif, harus membudayakan tradisi kritik wacana agama, pengarusutamaan isu-isu kemanusiaan.

Sementara itu, Sabiq Wafiyudin yang merupakan Pendamping Desa mengatakan, kader desa merupakan “Orang Kunci“ yang mengorganisir dan memimpin rakyat desa bergerak menuju pencapaian cita-cita bersama, melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar sosial yang dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat desa.

“Kehendak untuk merangkul atau meng-inklusi kelompok-kelompok masyarakat marjinal harus ditumbuhkan dan muncul dari dalam masyarakat, harus ada respon dari Pemerintah (Kabupaten, Kecamatan, Desa) berupa kebijakan inklusif yang memberikan kesempatan setara pada pro kelompok marjinal sebagai bagian warga Desa dan warga Negara,” tandasnya. (ZA/AM)

No comments

Powered by Blogger.