Cemas Regenerasi Perajin Seni Ukir Mandeg

LINTASJEPARA.ISKNEWS.COM, Lintas Jepara - Walaupun sampai saat ini  predikat Jepara sebagai kota ukir dan sekaligus sebagai pusat ukir dunia belum tergantikan kota lain, namun kecemasan akan  masa depan seni ukir Jepara semakin menguat. Pasalnya generasi muda Jepara sekarang kurang berminat untuk menekuni seni kerajinan ini, sebab mereka menilai seni ukir tidak menjanjikan masa depan yang layak. Karena itu mereka memilih bekerja di pabrik atau perusahaan lain. Dampaknya sekarang semakin sulit mencari tenaga kerja muda  yang memiliki ketrampilan seni ukir.


Namun demikian, masa depan seni ukir masih bisa dibangun kembali jika semua pemangku kepentingan, mulai pemerintah pusat, propinsi, kabupaten, pengusaha, lembaga pendidikan hingga para perajin ukir bersedia duduk bersama  untuk membicarakan persoalan pelestarian seni ukir ini dari hulu sampai  hilir.
 
“Perlu disusun peta jalan pelestarian dan pengembangan seni ukir Jepara yang menjadi pedoman semua pihak. Namun peta jalan ini harus  benar-benar ditindaklanjuti. Tidak seperti sekarang,” ujar Hadi Priyanto, Ketua Lembaga Pelestari UKir, Tenun dan Batik Jepara.
 
Hadi mengambil contoh,  Perda Nomor 1 Tahun 2011 tentang Pendidikan yang mewajibkan semua satuan pedidikan menempatkan seni ukir sebagai muatan lokal juga tidak sepenuhnya berjalan. Juga Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 10 tahun 2014 Tentang Pemberian Ornamen Ukiran Pada Semua Bangunan Milik Pemerintah tidak diimplementasikan dengan baik.
 
Diungkapkan pula, pembukaan jurusan seni ukir di SMKN 2 Jepara  yang pernah dilakukan oleh Gubernur Jateng tahun 2014 juga tidak berhasil mendapatkan ijin dari Kemendikbud hingga ditutup kembali setelah menerima murid 3 angkatan. Demikian juga kursus seni ukir di kelas pembangunan tahunan  tidak ada lagi pasca reformasi saat dilakukan pembagian tugas antara pemerintah kabupaten dan provinsi. BLK juga tidak ada program pelatihan seni ukir, termasuk semakin kecilnya animo anak-anak muda yang bersedia nyantrik atau magang di brak-brak mebel.  “Pintu masuk pelestarian untuk tenaga kerja terampil  sepertinya tidak ada lagi,” imbuhnya.
 
Namun menurut Dosen Unisnu Jepara Sutarya, kaderisasi melalui perguruan tinggi malah berjalan baik dengan kehadiran fakultas Sains dan Teknologi Unisnu. “Namun memang kami lebih berkonsentrasi pada desain dan pengetahuan dasar tentang seni ukir.  Bukan sebagai tenaga ukir. Harapannya akan muncul produk-produk ukir baru dari Jepara yang peluagnnya terbuka luas,“ ujar Sutarya.
 
Agar  seni ukir tetap menarik minat generasi muda, satu-satunya jalan adalah memberikan upah yang layak, sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Bukan hanya sesuai dengan UMR. Jika sesuai UMR memang penghasilan perajin ukir lebih rendah dari tukang batu dan tukang kayu.
 
Kelangkaan tenaga trampil di bidang seni ukir juga dikeluhkan oleh Ketua Himpunan Pengrajin Kayu Jepara Margono. Menurutnya, duduk bersama adalah  pintu masuk untuk mencari resep terbaik dalam melestarikan seni ukir Jepara. Namun ini perlu berkesinambungan dan integratif hingga dapat dicari sulisi secara komprehensif.
 
Pendapat berbeda justru  diungkapkan oleh  Miftakhur  Rahman dari Kampung Sembada Ukir Petekeyan. “Untuk seni ukir minimalis tenaga kerja masih cukup banyak sebab memang jenis barang yag dikerjakan sangat sederhana tidak seperti seni ukir Jepara,” ujarnya.
 

Namun demikian ia sangat mendukung dan berharap pelestarian melalui lembaga pendidikan dapat dihidupkan kembali. Disamping itu, upah yang layak juga sangat penting untuk membangkitkan kembali minat generasi muda pada seni ukir.

No comments

Powered by Blogger.